Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 April 2014

Kerusakan Hutan Di Indonesia Membuat Banyak Hewan dan Tumbuhan Terancam Punah



Kerusakan Hutan Di Indonesia Membuat Banyak Hewan dan Tumbuhan Terancam Punah

(ANISA MAHARANI 130210103065)

Kondisi hutan-hutan di Indonesia saat ini dalam keadaan krisis. Banyak tumbuhan dan binatang yang hidup di dalamnya terancam punah. Selain itu, masih banyak manusia dan kebudayaan yang menggantungkan hidupnya dari hutan juga ikut terancam. Tapi tidak semuanya merupakan kabar buruk. 

Suatu kenyataan pahit, yang bisa kita lihat dari keadaan hutan tropis kita: pembalakan hutan secara liar (illegal logging) dan kebakaran hutan baik disengaja atau pun tidak. Pembalakan liar yang masih terus  terjadi di hutan sekitar Riau, Sumatera. Pertanyaan yang langsung terlintas adalah, bagaimana nasib hewan endemik Harimau Sumatera yang sekarang semakin langka ? Apakah akan punah menyusul nasib Harimau Jawa dan Bali yang sekarang tinggal cerita ?  Tidak hanya di Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan di Papua pun hutan tropis kita sudah mulai banyak yang berubah fungsi menjadi hamparan perkebunan kelapa sawit.

Entah sampai kapan hal-hal seperti ini terus berlangsung dan merusak tatanan ekosistem hutan serta mengancam keberadaan keanekaragaman hayati yang ada didalamnya. Tidak hanya para penghuni di hutan, tatanan sosial budaya masyarakat adat di sekitar pun menjadi turut terganggu. Dengan hilangnya hutan berarti hilang juga sumber kehidupan bagi sebagian rakyat Indonesia, karena hutan merupakan tempat mencari makanan, obat-obatan serta menjadi tumpuan hidup bagi sebagian besar rakyat khususnya yang bermukim di dekat hutan.

Manusia perusak lingkungan masih saja berkeliaran. Sudah saatnya segenap jajaran kementerian lingkungan hidup, para polisi hutan beserta peran masyarakat di sekitar hutan dioptimalkan jangan sampai peristiwa ini terus terulang lagi dan terulang lagi.

Coba kita tengok dan pelajari banyak suku-suku adat yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, mereka pada umumnya sudah bertindak sangat ramah lingkungan melalui kegiatan hidupnya sehari-hari, dan kita yang katanya orang kota, faktanya justru banyak yang bertindak kurang peduli terhadap lingkungan.
Begitu sangat banyak kearifan budaya lokal dari berbagai suku adat yang banyak tersebar di seluruh pelosok Indonesia yang patut kita contoh.

Pentingnya Hutan Kota Bagi Alam dan Lingkungan Sekitarnya

Hutan seakan lenyap di masa modern akhir-akhir ini. Dahulu hutan menjadi sarana bagi umat manusia untuk mencari makan. Namun sekarang terbalik, hutan malah dianggap sebagai penghalang bagi masyarakat kota untuk membangun tempat tinggal atau bangunan tinggi.

Di kota-kota di Indonesia jarang kita menemukan hutan kota. Pembangunan kota selama ini cenderung lebih mengutamakan pembangunan fisik dan tidak dibarengi dengan lahan hijau di sekelilingnya. Adapun lahan kosong di sekitar bangunan hanya digunakan untuk parkir tanpa disertai pohon-pohon yang hijau. Jadi bukan hutan kota yang kita temukan, melainkan hutan beton.


Pemandangan ini tampak dari bertebarannya gedung-gedung pencakar langit. Sepanjang mata kita memandang hanyalah gedung tinggi menjulang dan kawasan terbuka hijau yang semestinya 30% dari luas kota seakan-akan terabaikan begitu saja dengan alih-alih pembangunan.

Akibatnya, setiap tahun kota-kota besar di Indonesia mengalami berbagai masalah ketika musim hujan tiba. Mulai dari banjir di mana-mana, kualitas lingkungan dan udara menjadi buruk karena polusi yang dihasilkan kendaraan bermotor tidak mampu ditampung dan di saring oleh pepohonan yang ada. Keberadaan ruang terbuka hijau mempunyai bermanfaat yang tidak bisa kita abaikan dan berperan dalam mengatasi itu semua.
Jadi, tunggu apa lagi. Keberadaan hutan kota adalah kebutuhan kita semua. Mari kita mulai dari diri kita sendiri dan dorong pihak berwenang untuk menciptakan lebih banyak lagi hutan kota di tempat yang kita tinggali.


Read More ->>

KEADAAN LINGKUNGAN DIKOTA DAN KAMPUS TEGAL BOTO JEMBER

www.fkipunej.ac.id
www.unej.ac.id
biologinote.blogspot.com
www.facebook.com/anicha.aquino

KEADAAN LINGKUNGAN DIKOTA DAN KAMPUS TEGAL BOTO JEMBER
(ANISA MAHARANI 130210103065)
Saat ini keadaan bumi kita semakin lama semakin tua saja. Banyak perubahan yang terjadi pada bumi kita, terutama pada kulit bumi. Banyak wilayah di Negara kita yang tereksploitasi untuk kepentingan pribadi mereka. Padahal semua itu perlu dilindungi dan harus dilestarikan karena sumber daya tersebut bisa musnah dan memberikan dampak lingkungan yang negative.
Sama halnya dengan keadaan lingkungan di kota kita, sebut saja di kota Jnyak factor ember ini. Banyak wilayah-wilayah dan situs-situs sumber daya alam yang dieksploitasi secara besar-besaran dan tidak bertanggung jawab. Kita ambil contoh seperti penambangan pasir didaerah Paseban Kencong dan Kesilir. Di daerah tersebut dijadikan tempat penambangan yang kapasitasnya tidak dibatasi, dalam satu hari penambangan bisa mencapai kurang lebih 10 truk besar. Jika tempat tersebut setiap hari digali maka dalam jangka waktu beberapa tahun kedepan akan menyusutkan wilayah tersebut menjadi dibawah permukaan laut. Dengan hal itu jika ada gelombang atau hujan deras maka daerah tersebut akan mudah tergenang oleh air. Banyak oknum-oknum yang tidak betanggungjawab dalam hal ini, sehingga mereka tidak m,emikirkan dampak kedepannya seperti apa. Sebagai masyarakat yang peka dan peduli atas keseimbangan ekosistem dan lingkungan , maka kita harus membatasi eksploitasi tersebut dengan menghimbau kepada pemerintah daerah sekitar untuk memberlakukan Undang-undang pertanggungjawaban dan eksploitasi secara besar-besaran. Begitu juga dengan daerah Gumuk yang sering terjadi eksploitasi massal.
Disamping itu, di daerah kota pun masih ada permasalahan lingkungan yang bisa mengganggu keseimbangan alam. Salah satunya jika saat hujan tiba ada beberapa titik jalan yang macet karena banjir. Daerah tersebut diantaranya yaitu daerah Kampus Universitas Jember tepatnya di jalan Jawa dan yang paling parah adalah disekitar jalan Mastrip. Hujan sebentar saja area ini sudah macet tergenang air hujan yang meluap dari got-got sekitar jalan. Dijalan Jawa tempat-tempat resapan air tidak berfungsi dengan baik sehingga sewaktu hujan terisi air penuh dan tidak mampu menampung tingginya debit air. Disini dibutuhkan untuk normalisasi daerah resapan airnya. Begitu juga dijalan Mastrip, mulai di depan Pintu Gerbang FKG Unej sampai di depan gerbang Polije sangat rawan macet karena banjir diwilayah tersebut tidak bisa dihindari mekipun hujan turun hanya sebentar saja. Banyak factor yang memicu hal ini terjadi. Salah satunya yaitu got aliran air disekitar jalan semakin lama semakin dangkal saja, dan banyak ditemukannya sampah-sampah plastic yang menggenang dan tersangkut di pinggiran got. Aliran got tersebut berawal dari got rumah tangga yang berada diperumahan atau rumah kos disekitar mastrip dan juga Batu Raden. Para penghuni rumah kos dan rumah masyarakat sekitar ternyata masih banyak yang tidak sadar dan masih senang membuang sampah langsung ke aliran got tersebut. Mereka msih belum peka apa dan bagaiman bahaya yang nantinya mereka dapat jika sebagian banyak got mereka tersumbat sampah terutama sampah plastik yang susah diuraikan. Dan yang paling parahnya juga ditemukan adanya sampah bekas pembalut wanita. Disini terjadi kesalahan yang sangat fatal dan sangat tidak bertanggungjawab. Padahal pada sampah bekas pembalut sangat susai terurai karena terbuat dari bahan yang lapisan luarnya dari bahan sintesis. Dan bekas pembalut tersebut sangatlah berbahaya karena banyak mengandung bakteri0bakteri yang tidak kita ketahui bisa menyebabkan berbagai macam penyakit. Dan air got yang tidak mengalir atau dibiarkan menggenang seperti itu akan menjadi bibit atau sarang nyamuk atau larva yang bisa menyebabkan virus demam berdarah. Itu merupakan salah satu polusi lingkungan terutama pada polusi air yang terdapat banyak sampah yang menggenang dan mengotori aliran got.
Disamping itu juga diwilayah kita terutama sekitar kampus banyak terjadi polusi udara yang disebabkan oleh asap-asap kemdaraan bermotor yang kapasistasnya meluap. Hampirsetiap mahasiswa mengeluarkan polusi yaitu satu mahasiswa satu kendaraan bermotor. Asap kendaraan bermotor yang keluar dari knalpot banyak mengandung gas karbon monoksoda (CO) dan karbon dioksida (CO2). Gas-gas tersebut adalah salah satu jenis gas yang tergolong gas polutan atau gas yang bisa mencemari udara. Semakin banyak gas polutan yang dikeluarkan maka lama kelamaan akan berdampak pada lapisan ozon pada bumi kita. Lapisan ozon (O3) jika tercemari oleh gas polutan akan terjadi pemecahan reaksi senyawa sehingga bisa menambah kapasitas gas CO dan CO2. Gas-gas tersebut bisa membuat ozon (O3) berlubang. Jika lapisan ozon berlubang maka sinar ultraviolet mudah masuk ke bumi dan panas matahari tidak bisa dipantulkan kembali ke angkasa. Sehingga hal ini menyebabkan bertambah panasnya atau meningkatnya suhu udara dibumi atau panas bumi. Dan dengan hal ini timbullah kerusakan yang dinamakan Global Warming (Pemanasan Global).
Untuk menanggulangi pemanasan global di daerah jember terutama wilayah kampus, maka kita menghimbau kepada pemerintah untuk lebih sering mengadakan Car Free Day atau hari bebas kendaraan bemotor. Minimal kegiatan tersebut dilakukan waktu akhir pecan atau weekend. Dengan begiti kita akan lebih terbisa dengan rutinitas seperti itu dan lebih bisa mengurangi volume kendaraan pribadi beralih ke kendaraan umum. Dengan itu bisa membantu mengurangi produksi gas polutan (CO dan CO2). Serta dengan mengurangi kegiatan pembakaran sampah disekitar areal kampus karena asap pembakaran sampah juga bisa mengganggu system pernapasan kita karena juga mengandung zat polutan juga mencemari udara. Untuk membantu produksi gas Oksigen (O2) kita bisa memulai dengan menanam pohon di tempat kita tinggal karena satu pohon bisa membantu menghasilkan oksigen (O2). Terutama di daerah tengah kota, diupayakan kepada pemerintah setempat untuk membuat taman kota untuk menyejukkan udara ditengah kota. Perubahan sekecil apapun sangat berarti untu orang banyak. Oleh karena itu sangat dibutuhkan kesdaran dari diri sendiri untuk memulai hal tersebut.

Read More ->>

Senin, 17 Maret 2014

Kuliah

wah mulai banyak presentasi, jadi strategi harus mulai jalan
Read More ->>

Minggu, 13 Oktober 2013

the peppered moth Biston betularia.


Kupu-kupu Biston Betularia

Ada yang tau kupu-kupu Biston Betularia itu apa? Berasal darimana? Yuk, kita bahas!

          Contoh dari Seleksi Alam salah satunya adalah peristiwa yang terjadi pada kupu-kupu Biston Betularia di Inggris. Sebelum terjadinya Revolusi Inggris, jumlah kupu-kupu Biston Betularia yang berwarna putih lebih banyak daripada kupu-kupu Biston Betularia yang berwarna hitam. Pada saat itu, lingkungan di Inggris masih bebas dari polusi sehingga populasi kupu-kupu Biston Betularia putih sangat banyak sedangkan populasi kupu-kupu Biston Betularia hitam sedikit karena tidak mampu beradaptasi. Namun setelah terjadinya Revolusi Inggris, jumlah populasi kupu-kupu Biston Betularia menjadi terbalik. Udara di Inggris yang menjadi gelap oleh asap dan debu industri menyebabkan populasi kupu-kupu Biston Betularia hitam menjadi meningkat karena mampu beradaptasi dengan lingkungan tersebut sedangkan populasi kupu-kupu Biston Betularia putih menurun karena tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan sehingga mudah ditangkap predatornya.


Sekitar tahun 1850 yaitu masa sebelum berkembangnya revolusi industri di Inggris, kupu Biston berwarna cerah lebih banyak daripada yang berwarna gelap. Tetapi setelah berlangsungnya revolusi industri, ternyata kupu yang berwarna gelap lebih banyak daripada yang berwarna cerah. Hal ini dimungkinkan karena sebelum revolusi industri pohon di habitatnya masih bersih, sehingga kupu berwarna cerah lebih adaptif, akibatnya sulit untuk dilihat predator. Ketika berlangsung revolusi industri dan sesudahnya, pohon dan daun habitat kupu tersebut tertutup oleh jelaga. Ini berakibat kupu berwarna gelap lebih adaptif sehingga sulit dilihat predator.

Ngengat adalah serangga yang berhubungan dekat dengan kupu-kupu dan kedua-duanya termasuk ke dalam Ordo Lepidoptera. Perbedaan di antara kupu-kupu dan ngengat lebih dari sekadar taksonomi. Kadang nama "Rhopalocera" (kupu-kupu) dan "Heterocera" (ngengat) digunakan untuk memformalisasikan perbedaan mereka. Banyak usaha telah dilakukan untuk membagi ordo Lepidoptera menjadi kelompok seperti Microlepidoptera dan Macrolepidoptera, Fenatae dan Jugatau, atau Monotrysia dan Ditrysia. Kegagalan dari nama ini untuk tetap berada pada penggolongan moderan karena tidak ada dari penggolongan tersebut merepresentasikan sepasang kelompok monofiletis. Pada kenyatannya, kupu-kupu adalah kelompok kecil yang muncul dari "ngengat".
Kebanyakan spesies ngengat giat pada malam hari, namun ada juga yang giat pada petang dan pagi, serta yang giat pada siang hari.

Ngengat dan ulatnya adalah salah satu hama perkebunan di banyak bagian di bumi. Ulat dari ngengat gipsi (Lymantria dispar), sebuah spesies invasifmenyebabkan kerusakan yang parah terhadap hutan di amerika Serikat Timur Laut. Di daerah beriklim sedang ngengat codling menyebabkan kerusakan yang parah terutama pada perkebunan buah. Di daerah tropis dan subtropis ulat kubis (Plutella xylostella) mungkin adalah hama tanaman kubis-kubisan yang paling ganas.
Beberapa ngengat pada keluarga Tineidae seringkali di anggap sebagai hama karena larvanya memakan bahan kain seperti baju dan selimut yang dibuat dari serat alami seperti woll dan sutra, mereka namun biasanya tidak memakan material yang dicampur dengan serat buatan. Kapur barusadalah penangkal ngengat yang paling sering digunakan dan dianggap cukup efektif namun ada kekuatiran akan pengaruhnya pada kesehatan manusia.Larva ngengat dapat dibunuh dengan membekukan barang yang mereka serang untuk beberapa hari pada suhu dibawah -8 derajat selsius.
Ngengat cukup tahan banting dan lebih tidak rentan pada pembasmi hama dibandingkan nyamuk dan lalat.
Beberapa ngengat namun juga berguna dan diternakan seperti contohnya ulat sutera, larva dari ngengat domestik Bombyx mori. Ulat sutera diternakan untuk diambil kepompongnya. Tidak semua sutra diproduksi oleh Bombyx mori kaena ada beberapa spesies Saturniidae yang juga diternakan untuk sutranya seperti ngengat Ailanthus (anggota dari kelompokSamia cynthia ), Ngengat Sutra Ek Cina (Antheraea pernyi), the Ngengat Sutra Assam (Antheraea assamensis), dan Ngengat Sutra Jepang (Antheraea yamamai).
Ulat mopane, ulat dari Gonimbrasia belina, dari keluarga Saturniidae, merupakan salah satu sumber makanan di Afrika Selatan.
Perlu dicatat bahwa ngengat dewasa namun tidak memakan bahan kain. Ngengat besar seperti Lun, Polyphemus, Atlas, Prometheus, Cercropia, tidak mempunyai mulut dan mereka meminum nektar untuk makanannya.
Read More ->>

Cendana ( Santalum album )

Cendana, atau cendana wangi, merupakan pohon penghasil kayu cendana dan minyak cendana. Kayunya digunakan sebagai rempah-rempah, bahan dupa, aromaterapi, campuran parfum, serta sangkur keris (warangka). Kayu yang baik bisa menyimpan aromanya selama berabad-abad. Konon di Sri Lanka kayu ini digunakan untuk membalsam jenazah putri-putri raja sejak abad ke-9. Di Indonesia, kayu ini banyak ditemukan di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Pulau Timor, meskipun sekarang ditemukan pula di Pulau Jawa dan pulau-pulau Nusa Tenggara lainnya.

Cendana adalah tumbuhan parasit pada awal kehidupannya. Kecambahnya memerlukan pohon inang untuk mendukung pertumbuhannya, karena perakarannya sendiri tidak sanggup mendukung kehidupannya. Karena prasyarat inilah cendana sukar dikembangbiakkan atau dibudidayakan.

Kayu cendana wangi (Santalum album) kini sangat langka dan harganya sangat mahal. Kayu yang berasal dari daerah Mysoram di India selatan biasanya dianggap yang paling bagus kualitasnya. Di Indonesia, kayu cendana dari Timor juga sangat dihargai. Sebagai gantinya sejumlah pakar aromaterapi dan parfum menggunakan kayu cendana jenggi (Santalum spicatum). Kedua jenis kayu ini berbeda konsentrasi bahan kimia yang dikandungnya, dan oleh karena itu kadar harumnya pun berbeda.

Kayu cendana dianggap sebagai obat alternatif untuk membawa orang lebih dekat kepada Tuhan. Minyak dasar kayu cendana, yang sangat mahal dalam bentuknya yang murni, digunakan terutama untuk penyembuhan cara Ayurveda, dan untuk menghilangkan rasa cemas.
BUDIDAYA CENDANA
Tanaman ini bisa tumbuh pada ketinggian 50 -1200 m dpl, dengan curah hujan 625 1625 mm/th dengan bulan kering 9-10 bulan. Saat ini populasi Cendana sangat mengkhawatirkan, terancam punah. Dari tahun 1987 – 1997, populasi pohono Cendana di NTT mengalami penurunan hingga 53,96%.

Kata Cendana, identik dengan wewangian untuk perawatan tubuh wanita. Ada minyak Cendana, rempah-rempah, aromatherapy, campuran parfum atau bahan dupa. Cendana adalah tumbuhan asli Indonesia yang tumbuh di Propinsi Nusa Tenggara Timur, seperti Pulau Timor, Sumba, Alor, Solor, Pantar, Flores, Roti dan pulau-pulau lainnya. Cendana juga bisa dijumpai di Gunung Kidul, Imogiri, Kulon Progo, Bondowoso dan Sulawesi.

Cendana adalah, tanaman komoditi dan potensial bagi perekonomian di Indonesia. Nilai ekonomi itu didapat dari kandungan minyak (santalo) dalam kayu yang beraroma wangi yang khas. Melalui penyulingan, minyak Cendana dapat digunakan sebagai perawatan tubuh, obat-obatan dan bahan minyak wangi atau parfum tadi. Kayunya juga bernilai ekonomi, dapat digunakan sebagai kerajinan ukiran, patung, kipas, tasbih dan lain-lain.

Saat ini minyak Cendana banyak di ekspor ke Eropa, Amerika, China, Korea, Taiwan dan Jepang. Untuk produk kerajinan kayunya, masih untuk konsumsi dalam negeri saja. Setiap tahun, kebutuhan minyak Cendan dunia, sekitar 200 ton. Dari jumlah tadi, kebanyakan disuplai dari India, yait 100 ton (50 %). Sisanya dari Indonesia, Australia, Kaledonia Baru dan Fiji, masing-masing mensuplai 20 ton, jadi masing kekurangan sekitar 80 ton per tahunnya.

Jadi, Indonesia masih punya peluang untuk memenuhi kebutuhan Cendana dunia.

Cendana, Antara Punah dan Pelestarian
CENDANA merupakan salah satu potensi sumber daya alam yang pernah terkenal di seantero dunia. Tanah NTT juga mencatat hal itu. Keterkenalan cendana bukan karena namanya tetapi karena wewangiannya. Karena itu pula cendana di mata sebagian orang Timor dikenal sebagai pohon wangi sesuai nama kampungnya: haumeni. Tetapi, sebagian orang Timor juga menyebutnya dengan nama: hau tam lasi yang secara harafiah dapat dimengerti sebagai kayu pembawa masalah/perkara. Makna terakhir muncul bersamaan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang menutup pemanfaatan cendana oleh masyarakat. Sebab, dalam kenyataannya, banyak orang yang menjadi korban kebijakan pemerintah terkait cendana. Ada yang dihukum secara adat melalui penyelesaian secara kekeluargaan.

Dalam urusan ini, warga yang dianggap melanggar aturan/kebijakan tentang pemanfaatan cendana, dihukum denda dengan membayar sarung tenunan daerah, binatang dan uang dalam jumlah tertentu. Tetapi, ada warga yang terpaksa harus menjalami proses hukum mulai dari penyidikan, penuntutan hingga pemeriksaan di pengadilan. Padahal, kalau mau dibilang, bila cendana dimanfaatkan secara baik oleh petani akan mendatangkan keuntungan ekonomis yang tidak sedikit bagi masyarakat. Sebaliknya, yang untung adalah pemerintah maupun oknum aparat penegak hukum. Sebab, bila oknum aparat pemerintah dan penegak hukum ketahuan menjual cendana, pasti tidak diproses secara hukum. Hal itulah yang kemudian menjadi ironi bagi masyarakat.

Sebaliknya, cendana sebagai pohon wangi, haumeni, sebetulnya merupakan salah satu komoditi utama perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu. Namun, tanpa disadari, populasi cendana semakin hari semakin menurun. Sebab, ternyata tidak ada keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian.


Padahal, jauh sebelumnya, upaya-upaya penyelamatan sudah dilakukan melalui budidaya cendana. Malahan sudah lebih dari seratus tahun lalu, meskipun dalam skala kecil. Pada abad ke-20, beberapa lokasi pernah melakukan pengembangan cendana antara lain di Bu’at (Timor Tengah Selatan/TTS) pada tahun 1958, BKPH Buleleng Barat pada 1967, dan sekitar Puri Uluwatu pada 1982. Upaya serupa pernah dilakukan di Kediri tepatnya di Gunung Klotok dan Sanggrahan), Malang di Jantur dan Songgoriti, Karangmojo di Gunung Kidul, Ngawi, Bromo, Karanganyar, Imogiri dan Jember di Sempolan.

Menurut sejumlah ahli botani, tanaman cendana malahan sudah dibudidayakan di TTS sejak tahun 1924. Yang menjadi persoalan saat ini, populasi tanaman cendana semakin hari semakin menurun baik di hutan alam maupun di lahan petani. Penurunan populasi ini menyebabkan penurunan produksi dan nilai ekspor.

Dalam penelitian yang dilakukan Meine van Noordwijk dkk pada 2001, terungkap bahwa penyebab penurunan populasi cendana di dua area itu karena: Pertama, pembakaran hutan. Pembakaran hutan terjadi setiap tahun. Hal ini terjadi sebagai akibat dari sistem pertanian tradisional tebas-bakar yang masih dipegang teguh measyarakat setempat saat membuka ladang. Sistem bakar ikut memusnahkan tanaman cendana.

Kedua, rendahnya harga cendana. Rendahnya harga cendana sesuai penetapan pemerintah. Hal ini ikut mendorong penebangan liar, perdagangan liar, penyelundupan dan pencurian. Dalam banyak praktek, harga cendana yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 7.000,00/kg. Sedangkan pengusaha menawarkan harga Rp 15.000-25.000,00/kg. Di sini terlihat, betapa rendahnya harga cendana yang ditetap pemerintah dibanding harga yang ditawarkan pengusaha. Secara tidak langsung, cendana tidak mempunyai manfaat ekonomis apa pun bagi petani.

Ketiga, penggalian akar cendana. Penggalian akar cendana banyak dilakukan masyarakat karena bagian akar mempunyai kandungan minyak cendana yang paling tinggi sehingga harganya termahal. Akibat pengambilan akar tersebut, banyak tegakan cendana yang roboh dan regenerasi vegetatif secara alami dengan tunas akar menjadi terganggu.

Keempat, eksploitasi berlebihan. Kegiatan eksploitasi yang dilakukan selama ini sangat berlebihan. Hal itu diperparah dengan upaya pembiaran atau tidak ada upaya penanaman kembali. 
Kelima, kebijakan yang merugikan. Dalam kenyataan, kebijakan-kebijakan pemerintah daerah melalui Peraturan Daerah (Perda) bukannya menguntungkan petani atau masyarakat tetapi banyak merugikan. Karena kebijakan yang ada dirasa tidak menguntungkan, masyarakat kemudian memusnahkan semai cendana di lahan miliknya baik di pekarangan, kebun maupun pada sistem ladang berpindah.

Keenam, pertumbuhan lambat. Masa tunggu panen cendana ternyata cukup lama, yakni berkisar antara 30-35 tahun. Hal ini membuat petani enggan menanam cendana. Ketujuh, anggapan masyarakat. Ada anggapan masyarakat yang berlangsung turun-temurun dari generasi ke generasi bahwa cendana tidak bisa dibudidayakan, melainkan tumbuh secara alami. Hal ini tentu tidak terlepas dari keterbatasan pengetahuan masyarakat tentang teknologi budidaya cendana itu sendiri.

Asal tahu saja, beberapa daerah di NTT yang pernah ditumbuhi cendana adalah Timor, Sumba, Flores, Alor, Solor, Wetar, Lomblen dan Rote. Cendana juga sudah menyebar di daerah-daerah seperti Bondowoso dan Jember (Jawa), Bali, Gunung Kidul (DIY), Sulawesi dan Maluku.

Cendana juga ditemukan di India Selatan. Penyebaran cendana di kawasan itu bermula dari Uttar Pradesh ke bagian selatan Karnataka dan ke barat daya Andhra Pradesh juga ke Tamil Nadhu dan Kerala. Selanjutnya cendana diperkenalkan ke beberapa negara tropik seperti Kepulauan Mascarene, China, Sri Lanka dan Taiwan.

Cendana diperkenalkan di China bersamaan dengan datangnya agama Budha, kemudian menyebar dari Tibet, Yunnan dan daerah-daerah pantai menuju ke daerah pedalaman. Saat ini bahkan cendana sudah dibudidayakan di Afrika, Kepulauan Pasifik dan Australia.

Cendana dapat tumbuh di daerah tepi laut hingga daerah pegunungan pada ketinggian 1.500 meter dari permukaan air laut dengan curah hujan antara 500-3.000 milimeter per tahun. Kondisi optimal untuk pertumbuhan adalah pada ketinggian antara 600-1.000 meter di atas permukaan air laut dan curah hujan antara 600-1.000 milimeter per tahun dengan bulan kering yang panjang antara 9-10 bulan.

Cendana yang tumbuh di daerah dengan curah hujan tinggi tidak menghasilkan kayu dengan kualitas bagus walaupun secara vegetatif tumbuhnya memuaskan. Suhu udara yang mendukung pertumbuhan cendana antara 10-35 derajat celcius. Sedangkan tipe iklim yang sesuai adalah tipe iklim D dan E.

Pada tingkat semai cendana sangat peka terhadap suhu tinggi dan kekeringan sehingga tanaman cendana sangat membutuhkan naungan sekitar 40-50 persen. Sedangkan lingkungan yang dibutuhkan, semai cendana mudah ditemukan di bawah lantai hutan ampupu (eucalyptus urophylla), hue (ecalyptus alba), atau kabesak (acacia leucophloea).

Dari tingkat semai hingga umur 3-4 tahun naungan yang dibutuhkan semakin berkurang. Cendana dewasa bahkan membutuhkan intensitas cahaya matahari tinggi. Cendana dewasa pada umumnya ditemukan di pinggiran atau tepi kawasan hutan, dan sangat jarang ditemukan dalam hutan lebat.

Kondisi tanah yang sesuai untuk pertumbuhan cendana adalah berdrainase baik (umumnya di lahan kering), bertekstur lempung (sedang) dari bahan induk batu (topografi karst), batu pasir gampingan, batu lanau maupun vulkanik basa dan tanahnya dangkal. Pada tanah dangkal, berbatu-baru dan kurang subur, cendana dapat tumbuh dan menghasilkan kayu dengan kualitas terbaik. Tetapi bagaimana menyelamatkan cendana dari ancaman kepunahan? Mari kita rame-rame melestarikan cendana. Budidaya adalah langkah yang tepat untuk menyelamatkan tanaman cendana.
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.